Arsip Penulis: Redaktur Radarluwu

Air Digunakan PT Vale Sebagai PLTA, Masyarakat Sekitar Krisis Air, Listrikpun Harus Bayar

Radarluwu.com

Pakumanu, Sabtu (18/1/2025) – Krisis air bersih tengah melanda warga Pakumanu, meskipun wilayah tersebut menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan PT Vale untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kondisi ini memicu keluhan warga yang merasa tidak memperoleh manfaat langsung dari sumber daya alam di wilayah mereka.

“Air di tempat kami digunakan untuk PLTA oleh PT Vale, tetapi kami di Pakumanu justru kekurangan air,” ujar Ogi, seorang warga setempat. Menurutnya, situasi ini telah berlangsung lama tanpa ada upaya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga.

Kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, dan mandi, menjadi keluhan utama warga. Mereka berharap pemerintah dan PT Vale segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini.

“Kami hanya ingin hak dasar kami terpenuhi. Bagaimana mungkin air digunakan untuk PLTA, tetapi kami sendiri kekurangan air?” tambah Ogi.

Hingga saat ini, PT Vale belum memberikan tanggapan resmi terkait persoalan tersebut. Namun, warga mendesak adanya dialog terbuka untuk mencari solusi agar keberadaan PLTA tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat lokal.

Krisis air di Pakumanu mencerminkan tantangan yang sering dialami wilayah penghasil sumber daya alam, di mana pemanfaatannya tidak selalu memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Warga berharap masalah ini segera menjadi perhatian serius semua pihak.

 

Rawat Spirit Perjuangan WTL, KKLR Sulsel Gelar Semarak Hari Perlawanan Rakyat Luwu Raya ke-79

Radarluwu.com

MAKASSAR – Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan (Sulsel) bakal memperingati Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-79 dengan menggelar sejumlah kegiatan.

HPRL adalah kalender tahunan yang diperingati untuk mengenang perjuangan rakyat Luwu melawan tentara NICA, 23 Januari 1946 silam. Khusus bagi Pemerintah Daerah di Luwu Raya, HPRL saban tahun diperingati bersamaan dengan Hari Jadi Luwu (HJL).

Ketua BPW KKLR Sulsel, Ir Hasbi Syamsu Ali mengatakan, tahun ini kegiatan Semarak HPRL-79 sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) KKLR ke-69.

“Insya Allah tahun ini, Semarak HPRL-79 akan dirangkaikan dengan HUT KKLR ke-69. Panitia tetap yang sudah menjalankan kegiatan ini sejak 3 tahun lalu, kini tengah bekerja mempersiapkan segala sesuatunya,” kata Hasbi, Sabtu (18/1/2025).

Menurut Hasbi, sebagai organisasi diaspora warga Luwu Raya, KKLR merasa bertanggung jawab untuk terus merawat sejarah dan menumbuhkan semangat juang bagi generasi Wija to Luwu (WTL) saat ini, khususnya dalam menyongsong masa depan lebih baik.

“Peringatan HPRL-79 adalah bentuk kita menghargai dan tidak melupakan sejarah. Rakyat Luwu Raya memang punya andil besar dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini,” bebernya.

Selain itu, lanjut Hasbi, KKLR sebagai organisasi paguyuban WTL, ternyata sudah berdiri sejak 69 tahun lalu, dengan nama Kerukunan Keluarga Luwu (KKL) saat wilayah Luwu Raya masih dalam satu Kabupaten.

“Jadi eksistensi KKLR dalam perjuangan masa depan Luwu Raya sudah ada sejak tahun 1956. Ini bukti bahwa sejak dulu ada komitmen bersama untuk terus merawat dan menyatukan semangat perjuangan dalam bingkai Luwu Raya,” terang Hasbi.

Karena itulah, KKLR Sulsel menyelenggarakan kegiatan Semarak HPRL-79 dan HUT KKLR ke-69 sebagai upaya merawat komitmen bersama memperjuangkan masa depan Luwu Raya, termasuk visi untuk membentuk daerah otonom baru (DOB) Provinsi di Luwu Raya.

Sementara itu Ketua Panitia Tetap Semarak HPRL-79 dan HUT KKLR ke-69, Asri Tadda, menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan kegiatan yang bakal berlangsung pada 25-26 Januari 2025 nanti.

“Insya Allah kita akan adakan Malam Ramah Tamah WTL pada Sabtu (25/1) malam di Hotel Horizon, dan esoknya pada Ahad (26/1) kita adakan Senam Sehat WTL, Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Donor Darah di area CFD Sudirman depan Hotel Horizon,” jelas Asri usai rapat bersama panitia di Kedai Bau Mangga, Makassar.

Dirinya berharap, para warga diaspora Luwu Raya yang bermukim di Makassar dan sekitarnya dapat ikut berpartisipasi meramaikan semua kegiatan yang dilaksanakan.

“Mari kita sukseskan kegiatan ini. Kita ramaikan malam ramah tamah untuk memupuk silaturahmi sesama diaspora Wija to Luwu, dan kita bercengkrama bersama dalam kegiatan CFD sekaligus baksos kesehatan,” ajak Asri yang juga Sekretaris BPW KKLR Sulsel itu. (*)

Proyek Pasar Sentral Tomoni Habiskan Rp 17 Miliar, Masih Terbengkalai

Radarluwu.com

Luwu Timur — Proyek pembangunan Pasar Sentral Tomoni di Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur, yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 17 miliar melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2024, kini dalam kondisi memprihatinkan. Pasar yang sebelumnya digunakan masyarakat sebagai pusat transaksi jual beli ini terbengkalai karena belum rampung.

Lebih parahnya, status kontrak proyek pembangunan pasar ini belum jelas, apakah diputus, diberi adendum, atau dikenakan denda, sementara pengerjaan proyek masih berlangsung.

Warga setempat, Sudarto, meminta agar aparat penegak hukum di Luwu Timur segera melakukan penyelidikan atas proyek tersebut yang menggunakan dana rakyat hingga belasan miliar rupiah. “Selain kejelasan kontrak, ada banyak masalah di lokasi yang diduga dikerjakan asal-asalan, sehingga jika selesai, bisa memicu persoalan baru,” ujarnya kepada wartawan pada 18 Januari 2025.

Sudarto juga menekankan pentingnya pengawasan yang ketat. “Konsultan pengawas dan tenaga teknis seharusnya selalu berada di lokasi proyek agar kualitas pekerjaan terjamin,” tambahnya.

Sementara itu, dari pantauan media, terlihat para pekerja proyek tidak menggunakan alat keselamatan kerja sesuai standar K3. Hal ini dinilai sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan pekerja, serta menunjukkan bahwa pengawasan proyek tidak berjalan dengan baik. Proyek ini diduga dikerjakan secara asal-asalan. (*)

 

Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Tomoni

Radarluwu.com

Luwu Timur — Warga Desa Mandiri, Kecamatan Tomoni, dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat di sekitar sungai Tomoni. Identitas mayat hingga saat ini masih belum diketahui, Sabtu (18/1/2025).

Kapolres Luwu Timur melalui Kasubsi Humas Polres Luwu Timur, Bripka Andi Muh. Taufik, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa personel Polsek Mangkutana dan tim INAFIS telah melakukan olah tempat kejadian perkara pada pagi tadi.

Ciri-ciri mayat yang ditemukan adalah:
* Mayat seorang pria perkiraan usia 45 tahun
* Mengenakan celana panjang berwarna abu-abu.
* Memakai gelang berwarna hijau pada pergelangan tangan kiri.
* Memakai cincin berwarna silver pada jari manis tangan kiri.

Nursianto, saksi yang menemukan mayat tersebut, sedang mengambil pasir di sungai Desa Kalpataru. Ia menjelaskan bahwa ia melihat sesuatu yang menyerupai mayat di sungai. “Saat sedang mengambil pasir, saya melihat ada seperti mayat. Kemudian, saya memanggil seorang wanita untuk memberitahukannya. Wanita tersebut lalu pergi dan memanggil warga lainnya,” jelasnya.

Petugas dari Puskesmas Tomoni tiba di TKP untuk melakukan pemeriksaan awal. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan luka terbuka pada bagian kepala dan luka di pelipis mata sebelah kanan. Selain itu, saat ditemukan, mayat tidak mengenakan baju, dan celana yang dipakai melorot hingga ke ujung kaki meskipun kancing celana masih terpasang.

Mayat telah dibawa ke Rumah Sakit I Lagaligo Wotu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bripka Taufik mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri tersebut agar segera melapor ke Polsek Mangkutana. “Kami berharap masyarakat yang mengenali ciri-ciri tersebut dapat membantu proses identifikasi,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas dan penyebab kematian mayat tersebut.

Habiskan Anggaran Ratusan Juta, Program CSR PT Vale Tidak Memberi Manfaat, FKMB Lapor Polisi

Radarluwu.com

Luwu Timur, 16 Januari 2025 – Forum Komunikasi Masyarakat Balambano (FKMB) menyampaikan aduan resmi kepada Kapolres Luwu Timur terkait sumur bor yang dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Vale Indonesia. Berdasarkan laporan yang ditandatangani Ketua FKMB, Ikbal Hamka, program ini diduga tidak memiliki izin sesuai dengan peraturan yang berlaku serta tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah Pakumanu, Desa Balambano.

Dalam surat tersebut, FKMB menyoroti bahwa pembangunan sumur bor ini telah menghabiskan anggaran sekitar ratusan juta rupiah, namun masyarakat setempat masih kesulitan mendapatkan akses air bersih. Bahkan, masyarakat Pakumanu disebut harus membeli air bersih dari penjual dengan harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per drum, yang jauh dari harapan program CSR.

Selain itu, FKMB menduga adanya indikasi penyelewengan dana dalam proyek ini. “Ada dugaan bahwa program ini hanya dijadikan sebagai ladang keuntungan bagi oknum-oknum tertentu,” tulis FKMB dalam suratnya. FKMB meminta agar program-program CSR PT Vale Indonesia selanjutnya dilakukan sesuai prosedur, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

FKMB berharap Kapolres Luwu Timur beserta jajarannya segera menindaklanjuti laporan ini dengan langkah hukum yang tepat. Mereka juga meminta PT Vale Indonesia untuk lebih transparan dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.(*)