Arsip Tag: PT Vale

SOROWAKO, 24 Juli 2026 – Membangun generasi muda yang mampu menjadi penggerak keberlanjutan merupakan bagian penting dari investasi jangka panjang PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) dalam menciptakan nilai bersama bagi masyarakat dan lingkungan. Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-58, perusahaan meluncurkan Kelas Konservasi, sebuah program pengembangan kapasitas bagi 50 pelajar SMA/sederajat dari wilayah pemberdayaan di Luwu Timur.

Diluncurkan di Kawasan Agrowisata Nanas Pondata, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, program ini mengintegrasikan pembelajaran konservasi, kepemimpinan, praktik lapangan, kepenulisan, dan ekonomi hijau untuk membentuk generasi muda yang mampu menginisiasi aksi nyata bagi pelestarian lingkungan. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat pengelolaan keanekaragaman hayati, memberdayakan masyarakat, dan menumbuhkan budaya keberlanjutan yang diwariskan lintas generasi.

Kelas Konservasi dirancang sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman lapangan. Selain memperluas pemahaman mengenai konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, rehabilitasi ekosistem, pengelolaan sampah berbasis ekosistem, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab, program ini juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, komunikasi, kepenulisan, dan penyusunan proyek sosial. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi, menggerakkan kolaborasi, dan menjadi inspirasi di komunitasnya.

Chief Sustainability & Corporate Affairs PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan bahwa tantangan keberlanjutan saat ini membutuhkan lebih dari sekadar inovasi teknologi dan kepatuhan terhadap regulasi. Menurutnya, masa depan lingkungan juga ditentukan oleh hadirnya generasi yang memiliki kesadaran, kepedulian, dan keberanian untuk mengambil peran sebagai penggerak perubahan.

“Output dari kegiatan ini adalah para siswa dapat menjadi duta lingkungan yang mandiri. Mereka tidak hanya belajar secara normatif di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai pentingnya kepedulian terhadap lingkungan yang ditanamkan sejak awal. Kami berharap mereka mampu menjadi generasi muda yang memberikan contoh, gagasan, dan inspirasi bagi masyarakat maupun teman-teman sebayanya,” ujar Budiawansyah.

Kelas Konservasi diharapkan menjadi investasi sosial yang meninggalkan dampak jangka panjang melalui tumbuhnya budaya konservasi di tengah masyarakat.

“Harapan kami sederhana, program ini menjadi sebuah legacy. Kepedulian terhadap upaya konservasi tidak dimulai ketika seseorang telah dewasa, tetapi dibangun sejak dini hingga menjadi bagian dari karakter. Masa remaja merupakan periode yang penuh kreativitas, semangat, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Karena itu, kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk belajar, berkreasi, dan berkontribusi bagi lingkungan mulai sekarang,” katanya.

Program akan berlangsung mulai Juli hingga Oktober 2026 melalui kombinasi pembelajaran daring dan luring. Selama empat bulan, peserta akan mengikuti orientasi, sesi pembelajaran, kunjungan lapangan, penyusunan mini project, pelatihan kepenulisan, hingga seminar akhir sebagai ruang berbagi gagasan dan solusi terhadap berbagai isu lingkungan di wilayahnya.

Proses pembelajaran diperkuat melalui kolaborasi dengan akademisi, praktisi, dan para ahli internal perusahaan yang menghadirkan perspektif komprehensif mengenai konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkaya wawasan peserta mengenai pentingnya kolaborasi dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo, menyampaikan apresiasinya terhadap peluncuran Kelas Konservasi. Menurutnya, program tersebut menjadi ruang belajar yang relevan bagi generasi muda untuk memperluas wawasan sekaligus terlibat langsung dalam menjaga lingkungan di wilayahnya.

“Program seperti ini sangat penting karena memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk belajar langsung tentang lingkungan dan konservasi. Harapannya, mereka dapat menjadi pelopor yang membawa perubahan positif di masyarakat, khususnya di Luwu Timur,” ujarnya.

Melalui Kelas Konservasi, perusahaan menegaskan bahwa investasi pada keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, tetapi juga melalui pembangunan manusia yang mampu melanjutkan dan memperkuat upaya tersebut.

Sejalan dengan komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), inisiatif ini diharapkan melahirkan generasi penggerak keberlanjutan yang mampu menjadi duta-duta lingkungan, memperkuat kolaborasi di tingkat komunitas, menginisiasi berbagai aksi konservasi, serta menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan di Luwu Timur.(*/rls)

Radarluwu.com — Pengakuan para pengusaha kontraktor lokal PT Vale Indonesia begitu mengejutkan. Diam tertindas, protes masuk daftar hitam.

Kalimat itulah yang terus terbesit dipikiran para pengusaha kontraktor lokal PT Vale Indonesia selama ini. Mereka ditekan secara psikologis, dan dibuat ketakutan hingga bungkam.

“Karena saya pernah menjadi korbannya. Perusahaan saya di-blacklist selama 5 tahun. Lewat lima tahun, tidak pernah mi dapat pekerjaan juga,” kata Ketua GAPMAL, Mursal Muhammadiyah usai pertemuan dengan Bupati Luwu Timur di Kantor Bupati, Selasa, (28/04/2026).

Pengusaha kontraktor lokal dipaksa mengikuti aturan main yang diterapkan PT Vale Indonesia. Aturannya banyak. Pertama, harus ikut kualifikasi. Setelah lolos, akan mendapatkan kesempatan mengikuti tender proyek. Skema proyek hingga pemenang tender dimulai dari departemen PT Vale selaku user menyiapkan anggaran untuk proyek.

User kemudian menunjuk Project Manajer (PM). Setelah itu, PM membuat kriteria (proyek untuk lokal atau nasional) projek yang akan dikerjakan. Kriteria ini dikirim ke departemen CMT.

Setelah rampung, CMT dan User meneruskan projeknya ke Departemen Procrutmen. Procrutmen kemudian mengundang sejumlah kontraktor (sesuai bidang) untuk melakukan penawaran tanpa melampirkan pagu anggaran.

Setelah penawaran masuk, dilakukan pembahasan teknikal tender (batas waktu penawaran). Setelah itu, Procrutmen memilih beberapa kontraktor yang memenuhi kriteria. Perusahaan yang lolos, diundang kembali untuk melakukan negosiasi harga.

Dalam prosesnya negosiasi harga inilah, CMT menekan perusahaan untuk menurunkan harga. Harga terendah yang dimenangkan (hanya berlaku bagi kontraktor lokal). Pemenang tender disampaikan melalui email.

Jika melihat skema tendernya, kesannya terbuka dan transparan. Padahal, tidak demikian. Faktanya, PT Vale Indonesia sudah mematok sejak awal jenis proyek yang dapat dikerjakan kontraktor lokal. Jika masuk kategori nasional, maka porsinya hanya berlaku bagi perusahaan nasional.

User PT Vale beber Mursal, menggunakan matriks Scope of Work Assesment (SoWA). SoWa akan menentukan nilai pekerjaan, termasuk resiko pekerjaan. Terakhir, perangkingan. Dari perangkingan ini ditentukanlah, apakah proyek dikerjakan perusahaan nasional atau lokal.

Cara lain yang dilakukan agar proyek milik perusahaan nasional; pekerjaan kecil disatukan menjadi pekerjaan besar. Misalnya, pekerjaan drainase, tebing, dan penanaman. Ini disatukan. Begitu juga kerjaan lainnya. Digabung agar pekerjaan itu besar dan kompleks.

“Karena nilai proyek besar dan terkesan beresiko inilah dijadikan alasan bagi user (Vale) untuk menyerahkan pekerjaan ke nasional. Karena dianggap butuh modal besar, dan pengusaha lokal dianggap tidak mampu,” ungkap Mursal.

Pengusaha lokal tak hanya dikerdilkan dari segi kemampuan finansial dan manajemen. Padahal, 90 persen proyek yang dimenangkan perusahaan nasional dikerjakan kontraktor lokal.

Ada fakta menarik yang terungkap dalam RDP kemarin. Ternyata, pengusaha lokal hanya mendapatkan keuntungan 2-3 persen jika berkontrak langsung dengan PT Vale. Jauh beda dengan kontraktor perusahaan nasional, keuntungannya justru mencapai 7-8 persen.

Artinya, PT Vale Indonesia memberikan keuntungan luar biasa kepada perusahaan nasional. Tidak bagi perusahaan lokal. “Memang kami ditawar habis-habisan. Kalau tidak mau menerima, yah tidak dapat pekerjaan. Dan ini saya alami, makanya tidak pernah dapat kerjaan lagi” bebernya.

Data keberlanjutan PT Vale Indonesia tahun 2024 menunjukkan keberpihakan kepada kontraktor nasional begitu besar. dari anggaran Rp 12,7 Triliun, pengusaha lokal hanya mendapatkan porsi Rp 1,9 Triliun atau 15 persen dengan melibatkan 151 perusahaan lokal.

632 pemasok nasional digandeng PT Vale Indonesia dengan porsi anggaran Rp 9,8 Triliun atau 77 persen dari anggaran yang disediakan. Sisanya Rp 1 Triliun lebih diberikan kepada Internasional kontraktor.

Pemasok lokal didefinisikan sebagai perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Luwu Timur selama minimal 10 tahun dan memiliki pemilik perusahaan dengan identitas KTP Luwu Timur, termasuk dokumen pendirian perusahaan yang sah. Ini versi PT Vale Indonesia.

GAPMAL salah satu organisasi pengusaha lokal yang tergabung di Aliansi Pengusaha Lokal Luwu Timur. Organisasi pengusaha lain yang ikut bergabung diantaranya; HIPSO, ASPETI, ASPENA, APTA, HIPELTA, HIPTI, KUAT, AKL, HIPWAS, AKAL, dan ASPEBI. Inilah organisasi pengusaha lokal di empat wilayah pemberdayaan (Kecamatan Malili, Wasuponda, Towuti, dan Nuha) PT Vale Indonesia.

Komitmen PT Vale Indonesia dalam memberdayakan pengusaha lokal tertuang dalam Local Business Initiative (LBI). LBI ini mengatur keberpihakan PT Vale terhadap kontraktor lokal, dan fokus di dalam negeri.

Sayangnya, ini tidak sesuai. Kondisinya, seperti pengakuan para kontraktor lokal tadi. Pemkab Lutim dan Anggota DPRD diharapkan mengambil peran dan berpihak kepada pengusaha lokal.

“Kami ingin DPRD dan Pemkab Lutim berpihak kepada pengusaha lokal. Kasian para pengusaha lokal. Ditekan habis-habisan,” kata Ketua HIPSO, Iwan Usman.

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam mengatakan, masalah kontrator lokal PT Vale Indonesia memang sangat memprihatikan. Tak hanya penawaran harga ditekan habis-habisan, diminta ikut sama kontraktor nasional lagi.

Padahal sambungnya, proyek kontraktor nasional justru dikerjakan dan dimodali kontraktor lokal. “Jadi tidak benar ini nasional gandeng lokal. Harus lokal yang gandeng nasional,” kata Irwan Bachri Syam dihadapan Aliansi Pengusaha Lokal Lutim.

Irwan Bachri Syam berjanji menindaklanjuti persolan yang dihadapi kontraktor lokal PT Vale. Awal Mei, Pemkab Lutim akan mengundang petinggi PT Vale. (*)

Jakarta, 23 April 2026 — Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi energi, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) menegaskan langkah strategisnya dalam mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi pembiayaan melalui perolehan fasilitas _Sustainability-Linked Loan_ (SLL) senilai US$750 juta, dengan opsi _greenshoe_ tambahan sebesar US$250 juta.

Fasilitas pinjaman sindikasi ini merupakan yang pertama bagi PT Vale sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan finansial perusahaan, mendukung pengembangan proyek strategis, serta memastikan praktik pertambangan yang bertanggung jawab sejalan dengan tuntutan pasar global. Fasilitas ini didukung oleh sindikasi 14 bank internasional dan mengalami kelebihan permintaan (_oversubscribed_) hingga 1,7 kali, mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap fundamental bisnis dan arah strategis keberlanjutan PT Vale.

Seiring dengan percepatan elektrifikasi dan pengembangan energi terbarukan secara global, permintaan terhadap nikel sebagai komponen utama baterai kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi terus meningkat. Berdasarkan proyeksi International Energy Agency, kapasitas penyimpanan baterai global diperkirakan perlu meningkat hingga 14 kali lipat, sementara permintaan baterai EV diproyeksikan meningkat 7 kali lipat hingga tahun 2030.

Dalam konteks tersebut, PT Vale berada pada posisi strategis sebagai produsen nikel dengan intensitas karbon yang relatif lebih rendah, didukung oleh penggunaan energi terbarukan dari tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terintegrasi dalam operasionalnya. Perusahaan juga tengah meningkatkan kapasitas dan keandalan infrastruktur PLTA untuk mendukung proses elektrifikasi operasional secara bertahap.

Fasilitas SLL ini disusun mengacu pada _Sustainability-Linked Financing Framework_, yang selaras dengan praktik internasional dalam pembiayaan berbasis keberlanjutan. Indikator kinerja utama (_Key Performance Indicators_/KPI) yang digunakan mencakup penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Kedua KPI tersebut telah mendapatkan penilaian “_strong_” dari Second Party Opinion independen, yang menilai keselarasan dengan target global untuk membatasi kenaikan suhu sesuai Paris Agreement 1.5°C _pathway_, sebagaimana dirujuk dalam kajian independen, serta kontribusinya terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Penilaian ini juga memastikan adanya peningkatan kinerja yang signifikan dibandingkan skenario _business-as-usual_.

Pinjaman sindikasi berbasis keberlanjutan ini merupakan tonggak penting bagi PT Vale, sekaligus menandai langkah perdana Perseroan dalam memasuki pasar pinjaman sindikasi. Langkah ini sejalan dengan trajektori pertumbuhan Perseroan yang semakin kuat, didorong oleh ekspansi proyek-proyek strategis di Indonesia yang dijalankan secara disiplin, terukur, dan berlandaskan prinsip keberlanjutan.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale, Bernardus Irmanto, menyampaikan bahwa fasilitas ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam pengambilan keputusan strategis. “Fasilitas ini menandai langkah penting dalam perjalanan kami untuk menyelaraskan strategi pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” ujarnya.

Dari sisi pemanfaatan dana, fasilitas ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek strategis perusahaan. Pada tahun 2026, sekitar 50% dana akan dialokasikan untuk pengembangan proyek IGP Pomalaa, sekitar 30% untuk proyek IGP Morowali, dan sekitar 20% untuk pengembangan IGP Sorowako Limonite. Sementara pada tahun 2027, pendanaan akan difokuskan pada kelanjutan proyek-proyek tersebut serta pemenuhan hak partisipasi (_participating right_) dalam proyek joint venture.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap penciptaan nilai bersama, PT Vale juga akan menyalurkan manfaat finansial yang diperoleh dari penyesuaian margin berbasis kinerja keberlanjutan ke dalam program pengembangan masyarakat. Pendekatan ini memastikan bahwa keberhasilan pencapaian target ESG tidak hanya berdampak pada operasional perusahaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Pendekatan ini turut didukung oleh para mitra perbankan yang melihat pentingnya integrasi keberlanjutan dalam struktur pembiayaan. Direktur Wholesale Banking UOB Indonesia, Harapman Kasan, menyampaikan bahwa pembiayaan berbasis keberlanjutan menjadi semakin relevan dalam mendukung transformasi sektor industri. “Transaksi ini mencerminkan pendekatan kami dalam mendukung nasabah melalui struktur pembiayaan yang selaras dengan target keberlanjutan yang terukur, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam agenda transisi energi global,” ujarnya.

Mike Zhang, Global Head Metals & Mining, Institutional Banking DBS, menambahkan bahwa sektor pertambangan memiliki peran penting dalam memastikan transisi energi berjalan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ken Matsuo, Presiden Direktur PT Bank Mizuho Indonesia, menyampaikan: “Energi merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, dan kami bangga dapat mendukung fasilitas pinjaman sindikasi perdana PT Vale. Di tengah volatilitas pasar, tingginya minat dari para bank peserta serta oversubscription menunjukkan kuatnya kepercayaan terhadap model bisnis PT Vale. Kami melihat integrasi ESG dalam struktur pembiayaan seperti ini sebagai langkah penting dalam mendukung transisi energi secara berkelanjutan.”

Melalui pencapaian ini, PT Vale semakin memperkuat posisinya sebagai pelaku industri pertambangan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola yang baik (ESG), sejalan dengan visi untuk mendukung masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Palu, 13 April 2026 — Komitmen terhadap tata kelola yang baik serta kontribusi nyata bagi pembangunan daerah kembali mendapatkan pengakuan. PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari MIND ID, menerima penghargaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah atas kepatuhan dan konsistensinya sebagai wajib pajak yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah di Palu.

Momentum penghargaan ini sejalan dengan arah strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang menekankan bahwa peringatan HUT bukan sekadar seremoni, melainkan katalisator pertumbuhan ekonomi daerah melalui kolaborasi lintas sektor. “Peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi momentum untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” tegas Gubernur Anwar Hafid.

Sejalan dengan itu, PT Vale dinilai sebagai salah satu mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah melalui kepatuhan fiskal yang konsisten, termasuk pembayaran pajak alat berat secara tepat waktu dan berkelanjutan.

Head of External Regional & Growth PT Vale, Endra Kusuma, menyampaikan bahwa penghargaan ini mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan dalam menciptakan nilai bersama bagi pemerintah, masyarakat, dan pemegang saham. “Alhamdulillah. Ini bagian dari komitmen kami untuk terus berkontribusi kepada pemerintah, tidak hanya di Sulawesi Tengah, tetapi juga di wilayah lain tempat kami beroperasi. Pembayaran pajak yang tepat waktu dan berkelanjutan merupakan kontribusi nyata kami dalam mendukung pembangunan daerah maupun nasional,” ujar Endra.

Lebih lanjut, Endra menekankan bahwa sinergi multipihak menjadi fondasi utama dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. “Harapan kami, Sulawesi Tengah terus maju dan semakin sejahtera. Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat harus terus diperkuat untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus melestarikan nilai budaya, sejalan dengan semangat ‘Sulteng Nambaso’,” tambahnya.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda Pemerintah Daerah dalam menggerakkan ekonomi rakyat, PT Vale juga turut berpartisipasi dalam Sulteng Expo 2026 dengan menghadirkan booth UMKM binaan dari Morowali.

Inisiatif ini mencerminkan pendekatan holistik perusahaan, tidak hanya berkontribusi melalui pajak, tetapi juga melalui pemberdayaan ekonomi lokal yang berdampak langsung pada masyarakat. “Kami menghadirkan produk UMKM binaan, khususnya dari Morowali, sebagai bentuk komitmen kami dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional, sehingga sudah menjadi tanggung jawab kami untuk ikut memperkuat daya saing mereka,” jelas Endra.

Selain itu, PT Vale juga memanfaatkan momentum ini untuk mensosialisasikan berbagai program sosial yang telah dijalankan, termasuk pengembangan padi organik serta program CSR lainnya di wilayah IGP Morowali.

Dengan menampilkan produk-produk unggulan yang telah siap secara kualitas dan keberlanjutan pasokan, PT Vale menegaskan komitmennya dalam menciptakan dampak jangka panjang yang terukur bagi masyarakat sekitar.

Penghargaan ini semakin memperkuat posisi PT Vale sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah, sekaligus mencerminkan disiplin operasional dan tata kelola perusahaan yang solid, sebagai fondasi utama dalam mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

RadarLuwu.com — PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mengumumkan hasil keuangan yang telah diaudit untuk tahun yang berakhir pada 2025 dengan kinerja operasional yang tetap solid di tengah dinamika pasar komoditas global.

Sepanjang tahun 2025, PT Vale mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 metrik ton, meningkat dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 71.311 ton. Capaian ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga keandalan operasional serta efisiensi produksi.

Secara triwulanan, produksi pada triwulan keempat 2025 tercatat 17.052 ton, atau sekitar 12 persen lebih rendah dibandingkan triwulan ketiga yang mencapai 19.391 ton.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November 2025 dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Selain produksi utama nikel matte, PT Vale juga mencatat kemajuan dalam memperluas portofolio komersial melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Bahodopi dan Pomalaa.

Sepanjang 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan kontribusi terbesar berasal dari Blok Bahodopi.

Dari sisi pengiriman, PT Vale mencatat pengiriman nikel matte sebesar 73.093 ton pada 2025, meningkat dibandingkan 72.625 ton pada 2024. Peningkatan ini turut mendukung capaian EBITDA sebesar 228,2 juta dolar AS sepanjang tahun.

Pendapatan perusahaan tercatat 990,2 juta dolar AS, meningkat sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 950,4 juta dolar AS. Sementara itu, laba bersih PT Vale mencapai 76,1 juta dolar AS, meningkat 32 persen dibandingkan tahun 2024.

Kinerja tersebut dicapai meskipun harga realisasi rata-rata nikel matte pada 2025 turun menjadi 12.157 dolar AS per ton, dibandingkan 13.086 dolar AS per ton pada tahun sebelumnya.

Dari sisi biaya operasional, PT Vale berhasil mempertahankan unit biaya kas penjualan sebesar 9.339 dolar AS per ton, sedikit lebih rendah dibandingkan 9.374 dolar AS per ton pada 2024, sekaligus menjadi tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir.

Sepanjang tahun 2025, perusahaan juga mengalokasikan sekitar 485,9 juta dolar AS untuk belanja modal, meningkat 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Investasi ini difokuskan pada pengembangan proyek-proyek strategis serta kebutuhan modal keberlanjutan operasional.

Memasuki 2026, PT Vale terus memperkuat fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Proyek pertambangan di Pomalaa telah mencapai sekitar 60 persen progres pembangunan, sementara proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) telah mencapai sekitar 50 persen tahap konstruksi dan ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga 2026.

PT Vale menegaskan seluruh inisiatif strategis tersebut dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.