RadarLuwu.com, Pandeglang – Lima jurnalis yang menjalankan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten. Rombongan itu bertolak dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, menggunakan speedboat sekitar pukul 14.00 WIB, Senin (7/9/2026), dan hingga Rabu (9/9/2026) pagi keberadaannya belum ditemukan tim SAR gabungan.
Berdasarkan data Basarnas Banten, komunikasi terakhir dengan rombongan terjadi pukul 14.42 WIB, saat salah seorang anggota mengirimkan titik lokasi kepada rekannya, wartawan di Lampung. Sekitar 22 menit kemudian, tepatnya pukul 15.04 WIB, kontak dengan kelima jurnalis tersebut tak lagi dapat dilakukan. Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Hutapea menyebutkan, berdasarkan pendataan sementara, rombongan yang dilaporkan belum ditemukan terdiri atas M Bagus Khoirunnas (jurnalis Antara), Ari Basuki (jurnalis Merdeka), Yudhis (jurnalis iNews), Daus (jurnalis Anadolu), dan Donal (freelance). Dua orang lain yang ikut dalam rombongan masih dalam proses pendataan.
Sempat beredar kabar bahwa rombongan selamat tiba di kawasan Gunung Anak Krakatau. Dari keterangan istri pemandu yang ikut serta dalam speedboat, rombongan terpantau sudah berada di sekitar gunung tersebut pada pukul 18.13 WIB. Adapun titik dugaan terakhir berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, sekitar 9,98 nautical mile dari posisi RIB 02 Banten atau berjarak tempuh kurang lebih 40 menit. Kondisi di lokasi dilaporkan cerah berawan dengan angin berkecepatan sekitar 16,7 knot dari selatan ke utara serta gelombang setinggi 0,4-1 meter. Jarak pandang hanya sekitar satu mil karena sebaran abu vulkanik.
Operasi pencarian mulai digelar pada Selasa (8/9/2026) dengan mengerahkan kapal Basarnas KN Tetuka yang bergerak dari Pelabuhan BBJ Bojonegara menuju perairan Carita. Sebanyak 23 personel gabungan terlibat, terdiri atas 16 personel Basarnas Banten, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dan dua personel KP Sanjaya Mabes Polri. Kapal direncanakan beroperasi di laut selama tiga hari. Namun, hingga malam Selasa sekitar pukul 22.00 WIB, hasil pencarian masih nihil, dan kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, karena kondisi laut serta jarak pandang yang kurang mendukung.
Pencarian kemudian dilanjutkan kembali pada Rabu pagi pukul 07.00 WIB. Koordinator Operasi SAR Kantor SAR Banten Rizky Dwianto mengatakan dua drone termal yang berada di KN SAR Tetuka akan diterbangkan untuk memindai kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau dari udara. Pasalnya, pencarian menggunakan helikopter atau pesawat belum memungkinkan karena abu vulkanik masih menyebar. “Nanti di Gunung Anak Krakatau mungkin kita akan terbangkan dan kita lakukan pencarian dari udara tapi menggunakan drone thermal,” ujarnya.
Selain KN SAR Tetuka dan RIB 02 Banten milik Basarnas Banten, operasi ini juga menyiagakan RIB Lampung dari Basarnas Lampung, KAL Anyar dari Lanal Banten, serta satu unit ambulans dari FBN Banten. Potensi SAR yang dikerahkan merupakan gabungan dari 16 instansi dan elemen masyarakat, termasuk USS Pandeglang, Polsek Carita, Potsar Banten, Balawista, hingga aparat desa setempat, dengan nelayan sekitar turut dilibatkan. Tim juga berkoordinasi untuk memeriksa kemungkinan kapal bersandar di pulau-pulau kecil atau dermaga yang tidak terpantau, termasuk menelusuri informasi keberadaan rombongan di Pulau Sebesi.
Maruli mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mendekati kawasan yang berpotensi membahayakan keselamatan. Pihaknya bersama Basarnas berkomitmen melanjutkan pencarian secara maksimal dan akan menyampaikan perkembangan informasi sesuai hasil di lapangan.
Sumber: detikNews