BURAU – Dinas Perikanan Kabupaten Luwu Timur menggelar sosialisasi pengembangan metode budidaya polikultur udang-bandeng bagi para pembudidaya tambak di Aula Kantor Desa Burau Pantai, Kecamatan Burau, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong transformasi sektor perikanan budidaya menuju sistem yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Metode polikultur memungkinkan petani tambak membudidayakan udang dan bandeng secara bersamaan dalam satu petak tambak.

Pendekatan ini dinilai mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan hasil produksi, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem tambak tradisional.

Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan, Aswan Azis, yang membuka kegiatan ini menekankan besarnya potensi sumber daya alam Luwu Timur yang perlu dikelola secara tepat.

“Kita patut bersyukur karena Luwu Timur dianugerahi sumber daya alam yang melimpah. Potensi ini harus kita kelola dengan baik agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para pembudidaya tambak,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan teknologi dan metode budidaya yang tepat merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing sektor perikanan budidaya daerah.

Dinas Perikanan menghadirkan narasumber Ir. Muhammad Saenong, M.P., dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang juga berstatus sebagai tim ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan.

Sosialisasi tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan. Para peserta juga diajak turun langsung ke lokasi tambak untuk menyaksikan dan mempraktikkan penerapan metode polikultur mulai dari persiapan tambak, penebaran benih, hingga pengelolaan kualitas air dan pemeliharaan komoditas.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan, Syahrir, berharap pendekatan teori dan praktik lapangan yang dipadukan dalam kegiatan ini mampu mendorong para pembudidaya mengadopsi cara bertambak yang lebih modern dan efisien.

 

“Dinas Perikanan berharap para pembudidaya mampu mengadopsi metode budidaya yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan produksi perikanan serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya para pembudidaya,” kata Syahrir.

Kegiatan ini dihadiri perwakilan Camat Burau, Kepala Desa, para penyuluh perikanan, serta pembudidaya tambak. (red)

LUWU TIMUR – Dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Luwu Timur menggelar Pembukaan Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup yang berlangsung di Wisma Golden, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kapolres Luwu Timur, AKBP Ario Putranto TM, S.I.K., M.H., dan dihadiri oleh Wakapolres Luwu Timur KOMPOL Hajriadi, A.Md.Kep., Ners., S.H., M.H., Kasat Reskrim AKP Jody Dharma, S.Tr.K., S.I.K., M.H., panitia pelaksana, wasit pertandingan, serta para peserta turnamen dari berbagai wilayah di Kabupaten Luwu Timur.

Pembukaan kegiatan diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, doa bersama, sambutan Kapolres Luwu Timur, hingga pembukaan resmi turnamen yang ditandai dengan pelepasan pertandingan perdana.

Kapolres Luwu Timur AKBP Ario Putranto TM dalam sambutannya menyampaikan bahwa turnamen e-sport ini merupakan salah satu bentuk pendekatan Polri kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui kegiatan yang positif, kreatif, dan kompetitif.

“Melalui Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup ini, kami ingin membangun kedekatan dengan masyarakat serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan bakatnya secara positif. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat sportivitas,” ujar Kapolres.

Pelaksanaan turnamen ini menunjukkan komitmen Polres Luwu Timur dalam mengikuti perkembangan zaman dan mendukung aktivitas generasi muda di bidang olahraga elektronik (e-sport). Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Polres Luwu Timur dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Melalui berbagai kegiatan sosial, olahraga, dan kemasyarakatan, Polres Luwu Timur terus berupaya menghadirkan Polri yang Presisi, humanis, serta semakin dekat dengan masyarakt.

WOTU – Keberhasilan budidaya rumput laut kini tidak lagi diukur dari banyaknya hasil panen. Di tengah tantangan perubahan lingkungan dan meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk berkualitas, pembudidaya didorong menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) sebagai standar untuk menjaga produktivitas sekaligus memastikan usaha budidaya tetap berkelanjutan.

Komitmen tersebut menjadi fokus Dinas Perikanan Kabupaten Luwu Timur melalui sosialisasi bertajuk “Penerapan CBIB Rumput Laut Katonik untuk Keberlanjutan Usaha Budidaya” yang digelar di Aula Kantor Camat Wotu, Selasa (23/6).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Balai Budidaya Perikanan Air Payau zkementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Takalar, Ilham, dan diikuti para pembudidaya rumput laut, Asisten III Setdakab Luwu Timur Askar, penyuluh perikanan, Kabid budidaya Syahrir, kepala desa, serta jajaran Dinas Perikanan.

Mewakili Bupati Luwu Timur, Asisten III Askar saat membuka kegiatan mengajak seluruh pembudidaya menjadikan CBIB sebagai budaya dalam menjalankan usaha budidaya rumput laut.

“Mari kita jadikan penerapan CBIB sebagai budaya dalam budidaya rumput laut, bukan sekadar memenuhi standar, tetapi sebagai langkah nyata menjaga kualitas produk, melestarikan lingkungan pesisir, dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya. Dengan sinergi antara pemerintah, penyuluh, dan masyarakat, saya yakin sektor budidaya rumput laut di Luwu Timur akan semakin maju, berdaya saing, dan menjadi penopang terwujudnya Luwu Timur Maju dan Sejahtera,” ujarnya.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai penerapan CBIB secara menyeluruh, mulai dari pemilihan lokasi budidaya, penggunaan bibit unggul, teknik pemeliharaan,
pengendalian hama dan penyakit, hingga penanganan pascapanen. Penerapan standar tersebut diyakini mampu meningkatkan mutu hasil panen sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

Selain meningkatkan produktivitas, penerapan CBIB juga diharapkan mampu memperkuat daya saing rumput laut asal Luwu Timur di pasar yang semakin menuntut produk berkualitas, aman, dan memiliki sistem ketertelusuran (traceability).

Setelah penyampaian materi di aula, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lokasi budidaya rumput laut di lapangan. Pada sesi ini, para peserta tidak hanya melihat langsung penerapan prinsip-prinsip CBIB, tetapi juga mengikuti praktik budidaya yang benar, mulai dari pemeriksaan kondisi lokasi, teknik penanaman, pemeliharaan, hingga identifikasi potensi hama dan penyakit.

Pendekatan praktik lapangan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman pembudidaya sehingga materi yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap para pembudidaya tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem budidaya yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan, sehingga sektor rumput laut tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat pesisir.

MALILI – Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Mini 4WD IMI Sulawesi Selatan IDC Seri 3 Kapolres Luwu Timur Cup 2026 dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 sukses digelar di Gedung Olahraga Malili, Kabupaten Luwu Timur. Kejuaraan berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Juni 2026.

Ajang balap Mini 4WD atau yang lebih dikenal dengan balap Tamiya ini diikuti 20 tim dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Peserta berasal dari Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Sidrap, Parepare, Palopo, Luwu, Enrekang, Toraja, Luwu Timur selaku tuan rumah, serta Polman (Sulbar) dan Banggai (Sulteng).

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, bersama Kapolres Luwu Timur AKBP Ario Putranto, didampingi Ketua KONI Luwu Timur dan Ketua IMI Luwu Timur, turut menyaksikan langsung jalannya perlombaan yang berlangsung meriah dan kompetitif, Sabtu (20/6/2026).

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kejuaraan yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana mempererat silaturahmi antarpegiat olahraga otomotif sekaligus memperkenalkan Kabupaten Luwu Timur kepada para peserta dan tamu yang datang.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa olahraga Mini 4WD terus berkembang dan diminati masyarakat,” ujar Bupati Irwan.

Sementara itu, Kapolres Luwu Timur AKBP Ario Putranto saat penutupan kejuaraan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah datang dari berbagai daerah untuk mengikuti perlombaan di Bumi Batara Guru.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, official, panitia, dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini sehingga dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar. Semangat sportivitas yang ditunjukkan selama perlombaan menjadi hal yang sangat membanggakan,” kata AKBP Ario Putranto.

Pada penutupan kejuaraan, Kapolres turut menyaksikan persaingan sengit para tim dalam perebutan podium. Hasil akhir menempatkan Tim KM 7 dari Kabupaten Enrekang sebagai juara pertama, disusul Tim Andra 09 dari Makassar di posisi kedua.

Berikut daftar pemenang Kejurprov Mini 4WD IMI Sulsel IDC Seri 3 Kapolres Luwu Timur Cup 2026:

BTO dan Best Race Per Sesi

* BTO Sesi 1: Andra 09 (Makassar)
* Best Race Sesi 1: Saromase (Sidrap)
* BTO Sesi 2: Saromase 288 (Sidrap)
* Best Race Sesi 2: M.15.E (Parepare)
* BTO Sesi 3: Saromase (Sidrap)
* Best Race Sesi 3: M.15.E (Parepare)
* BTO Sesi 4: Andra 09 (Makassar)
* Best Race Sesi 4: Saromase (Sidrap)
* BTO Sesi 5: Saromase (Sidrap)
* Best Race Sesi 5: Andra 09 (Makassar)
* BTO Sesi 6: KM 7 (Enrekang)
* Best Race Sesi 6: AR Racing Team (Makassar)
* BTO Sesi 7: Saromase (Sidrap)
* Best Race Sesi 7: AR Racing Team (Makassar)
* BTO Sesi 8: KM 7 (Enrekang)
* Best Race Sesi 8: M.15.E (Parepare)
* BTO Sesi 9: Saromase (Sidrap)
* Best Race Sesi 9: Saromase (Sidrap)
* BTO Sesi 10: Saromase (Sidrap)
* Best Race Sesi 10: AR Racing Team (Makassar)

Kategori Khusus

* Best Race: AR Racing Team (Makassar)
* BTO Trek 1: Saromase (Sidrap)
* BTO Trek 2: Saromase 288 (Sidrap)

Juara Umum**

* Juara 1: KM 7 (Enrekang)
* Juara 2: Andra 09 (Makassar)
* Juara 3: KM 7 (Enrekang)
* Juara 4: Saromase (Sidrap)
* Juara 5: AR Racing Team (Makassar)

Para peserta memperebutkan total hadiah sebesar Rp.20.000.000. Selain menjadi ajang kompetisi, kejuaraan ini juga menjadi wadah silaturahmi bagi komunitas Mini 4WD dari berbagai daerah.

Usai sukses digelar di Luwu Timur, rangkaian Kejurprov Mini 4WD IMI Sulsel IDC akan berlanjut ke Seri 4 yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Tana Toraja pada 24–26 Juli 2026 mendatang.

LUWU RAYA— Wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya kembali mendapat penguatan dari kalangan akademisi. Sebuah kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Pallangga Praja Volume 8 Nomor 1 April 2026 terbitan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menyimpulkan bahwa pemekaran Luwu Raya tidak hanya layak secara fiskal dan administratif, tetapi juga berpotensi menjadi solusi untuk mengoreksi ketimpangan pembangunan yang selama ini terjadi antara wilayah utara dan selatan Sulawesi Selatan.

Penelitian yang ditulis dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan, Hamzah Jalante, mengkaji pembentukan Provinsi Luwu Raya melalui pendekatan empiris, analisis kapasitas fiskal, dan perspektif sosial-spasial kontemporer.

Kajian tersebut menyoroti bahwa selama bertahun-tahun pembangunan di Sulawesi Selatan cenderung terpusat di kawasan metropolitan Mamminasata, sementara wilayah Luwu Raya masih menghadapi berbagai keterbatasan pembangunan infrastruktur dan konektivitas.

Menurut penelitian itu, kondisi tersebut mencerminkan apa yang disebut sebagai ketidakadilan spasial atau ketimpangan pembangunan antarwilayah yang terjadi akibat terkonsentrasinya aktivitas ekonomi, investasi, dan belanja pembangunan di satu kawasan tertentu.

Secara makro, Sulawesi Selatan memang mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Pada 2025, ekonomi provinsi ini tumbuh 5,43 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar Rp753 triliun. Namun, capaian tersebut dinilai belum mencerminkan pemerataan pembangunan antarwilayah.

Kajian IPDN mencatat lebih dari 60 persen aktivitas ekonomi Sulawesi Selatan terkonsentrasi di kawasan Mamminasata yang meliputi Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar.

Sebaliknya, kawasan Luwu Raya yang mencakup Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, dan Kota Palopo masih menghadapi keterbatasan akses terhadap infrastruktur strategis, layanan publik, dan investasi pembangunan berskala besar.

Penelitian tersebut menyebut bahwa konsentrasi pembangunan di wilayah selatan telah menciptakan kesenjangan yang cukup tajam antara pusat pertumbuhan dan daerah pinggiran.

Infrastruktur strategis seperti kawasan industri, pelabuhan utama, jaringan logistik, hingga pusat layanan ekonomi modern lebih banyak berkembang di kawasan metropolitan, sementara wilayah Luwu Raya belum memperoleh manfaat pembangunan yang sebanding dengan kontribusinya terhadap perekonomian daerah.

*10 Persen Belanja Pembangunan*

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara kontribusi ekonomi Luwu Raya dan alokasi anggaran yang diterimanya.

Berdasarkan analisis dokumen anggaran dan perencanaan pembangunan daerah, wilayah Luwu Raya diperkirakan hanya menerima sekitar 10 persen dari total belanja layanan dasar dan pembangunan wilayah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Padahal kawasan ini mencakup sekitar sepertiga luas wilayah Sulawesi Selatan dan dihuni sekitar 1,2 juta penduduk.

Kajian tersebut juga mengungkap bahwa kontribusi ekonomi Luwu Raya, khususnya dari sektor pertambangan nikel di Kabupaten Luwu Timur, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan manfaat fiskal yang kembali ke daerah dalam bentuk pembangunan strategis. Investasi besar untuk kawasan industri, hilirisasi sumber daya alam, maupun penguatan konektivitas regional masih dinilai terbatas.

Dalam perspektif penelitian, kondisi inilah yang memperkuat argumen bahwa pemekaran daerah dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan distribusi pembangunan yang lebih adil dan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kawasan Tana Luwu.

*Mampu Berdiri Sebagai Provinsi*

Di luar persoalan pemerataan pembangunan, penelitian ini juga menguji kapasitas fiskal calon Provinsi Luwu Raya.

Hasilnya menunjukkan bahwa jika kapasitas keuangan empat daerah di kawasan Tana Luwu digabungkan, total APBD terintegrasi diperkirakan mencapai Rp6,1 triliun hingga Rp7,9 triliun. Sementara total Pendapatan Asli Daerah (PAD) berada pada kisaran Rp1,25 triliun hingga Rp1,6 triliun.

Kabupaten Luwu Timur menjadi penopang utama kekuatan fiskal kawasan berkat kontribusi sektor pertambangan nikel. Sementara Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Kota Palopo menopang struktur ekonomi melalui sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, jasa, dan perikanan.

Berdasarkan indikator tersebut, penelitian menyimpulkan bahwa Luwu Raya memiliki basis fiskal yang cukup kuat untuk menjalankan fungsi pemerintahan provinsi secara mandiri apabila pemekaran diwujudkan.

*Pemekaran Sebagai Solusi Fiskal dan Politik*

Kajian IPDN menegaskan bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya tidak semata-mata berkaitan dengan pembagian wilayah administratif, melainkan juga menyangkut upaya menghadirkan tata kelola pembangunan yang lebih efektif.

Melalui status sebagai provinsi tersendiri, Luwu Raya akan memiliki kewenangan fiskal yang lebih besar untuk menentukan prioritas pembangunan sesuai kebutuhan lokal.

Pemerintah daerah dapat lebih fokus mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur strategis, peningkatan konektivitas, pengembangan kawasan industri, serta hilirisasi sumber daya alam yang selama ini dianggap belum optimal.

Penelitian bahkan menyebut pemekaran sebagai salah satu jalan untuk menutup fiscal gap atau kesenjangan antara kebutuhan pembangunan wilayah dengan kapasitas fiskal yang selama ini diperoleh melalui mekanisme alokasi anggaran provinsi.

Karena itu, pemekaran dipandang bukan sekadar tuntutan administratif atau historis, melainkan solusi fiskal dan politik untuk mewujudkan distribusi pembangunan yang lebih proporsional di Sulawesi Selatan.

*Tata Kelola jadi Kunci Sukses*

Meski memberikan penilaian positif terhadap kelayakan pembentukan Provinsi Luwu Raya, penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa keberhasilan pemekaran sangat bergantung pada kualitas institusi yang dibangun.

Potensi besar dari sektor pertambangan dan sumber daya alam harus diimbangi dengan tata kelola yang transparan, birokrasi yang profesional, serta perencanaan pembangunan yang berbasis potensi lokal. Tanpa kesiapan kelembagaan yang memadai, pemekaran dikhawatirkan hanya akan memindahkan persoalan pembangunan dari satu level pemerintahan ke level lainnya.

Karena itu, penelitian merekomendasikan agar pembentukan Provinsi Luwu Raya dipandang sebagai proyek transformasi pembangunan jangka panjang yang bertujuan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Dengan kata lain, menurut kajian akademik IPDN tersebut, pemekaran Luwu Raya bukan hanya soal lahirnya provinsi baru, melainkan upaya menghadirkan keseimbangan pembangunan yang selama ini dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di kawasan Tana Luwu. (*)