LUWU TIMUR – PT Citra Lampia Mandiri (CLM) menyatakan dukungannya terhadap keikutsertaan kontingen Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Luwu Timur pada ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Tahun 2026 di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pengembangan sumber daya manusia, termasuk di sektor pendidikan.

Porsenijar PGRI merupakan ajang yang mempertemukan para guru dalam kompetisi olahraga, seni, dan inovasi pembelajaran. Kegiatan ini bertujuan memperkuat solidaritas antarpendidik sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan. Pada pelaksanaan tahun ini, kontingen PGRI Luwu Timur menargetkan mampu meraih prestasi di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Supervisor External PPM PT CLM, Mehdi Insana Kamil, mengatakan dukungan perusahaan merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi para guru yang selama ini berperan penting dalam mencetak generasi berkualitas.

“Guru memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, PT CLM mendukung keikutsertaan PGRI Luwu Timur di Porsenijar 2026 agar para peserta dapat tampil maksimal, menjunjung sportivitas, serta membawa nama baik daerah,” ujar Mehdi, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga melalui penguatan karakter, kolaborasi, kreativitas, dan semangat berprestasi.

Ia berharap dukungan yang diberikan PT CLM dapat menjadi motivasi bagi seluruh kontingen PGRI Luwu Timur untuk menampilkan kemampuan terbaik selama mengikuti seluruh rangkaian perlombaan di Sidrap serta mengharumkan nama Kabupaten Luwu Timur di tingkat provinsi.

MAKASSAR – Forum Mahasiswa Anti Korupsi Luwu Timur (FORMAK LUTIM) mendesak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan mengambil peran lebih aktif dalam mengawal penanganan sejumlah dugaan tindak pidana korupsi di Kabupaten Luwu Timur.

Melalui aksi demonstrasi yang digelar di depan Kantor Kejati Sulsel, Jumat (26/6/2026) siang, puluhan mahasiswa dari organisasi tersebut meminta agar proses penegakan hukum dilakukan secara profesional, transparan, dan bebas dari segala bentuk intervensi.

Dalam pernyataan sikapnya, FORMAK LUTIM yang diwakili Putra sebagai Jenderal Lapangan menilai korupsi merupakan ancaman serius terhadap pembangunan daerah karena secara langsung menggerus hak masyarakat atas pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur.

“Karena itu, setiap dugaan penyimpangan anggaran harus ditangani secara menyeluruh dan tidak boleh berhenti pada proses administratif semata,” tegas Putra.

Menurut FORMAK LUTIM, dalam beberapa waktu terakhir perhatian publik di Luwu Timur tertuju pada sejumlah perkara yang diduga mengandung unsur tindak pidana korupsi.

Di antaranya dugaan korupsi pengadaan seragam sekolah gratis, dugaan penyimpangan dalam pengadaan ambulans yang bersumber dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Vale Indonesia, hingga berbagai dugaan penyimpangan anggaran lainnya yang dinilai layak menjadi objek pemeriksaan aparat penegak hukum.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. FORMAK LUTIM menegaskan bahwa opini WTP merupakan instrumen audit yang penting dan patut dihormati, namun tidak dapat dimaknai sebagai jaminan bahwa suatu daerah bebas dari praktik korupsi.

“Tidak sedikit pemerintah daerah yang tetap tersandung kasus korupsi meski memperoleh opini WTP. Kasus OTT terhadap Bupati Muara Enim yang menjadi perhatian nasional karena diduga berkaitan dengan praktik suap terhadap oknum auditor guna mempertahankan opini WTP di tengah adanya penyimpangan anggaran,” tambah Putra.

Menurut Putra, peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa integritas pengelolaan keuangan negara tidak cukup diukur dari hasil audit, tetapi juga dari keberanian mengusut setiap dugaan penyimpangan secara objektif.

Atas dasar itu, FORMAK LUTIM meminta Kejati Sulsel mengambil alih supervisi dan melakukan pengawasan khusus terhadap seluruh perkara dugaan korupsi yang sedang ditangani di Kabupaten Luwu Timur.

Mereka juga mendesak agar penyidikan dugaan korupsi pengadaan seragam sekolah gratis maupun pengadaan ambulans CSR PT Vale dipastikan berjalan secara profesional, transparan, serta terbebas dari pengaruh politik maupun kepentingan ekonomi.

Selain itu, FORMAK LUTIM meminta Kejati Sulsel mengusut seluruh pihak yang diduga terlibat, baik pelaksana teknis, penyedia barang dan jasa, pengambil keputusan, maupun pihak-pihak yang diduga menikmati keuntungan dari tindak pidana tersebut.

Mereka juga mendorong dilakukan pendalaman terhadap berbagai proyek strategis dan program bernilai besar di Kabupaten Luwu Timur yang dinilai berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara.

Tidak hanya itu, FORMAK LUTIM meminta Kejati Sulsel memberi perhatian khusus terhadap proses dan substansi pengelolaan keuangan daerah yang mengantarkan Pemkab Luwu Timur memperoleh opini WTP. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan tidak terdapat praktik yang mencederai integritas audit keuangan negara.

Mereka juga menegaskan bahwa opini WTP tidak boleh dijadikan tameng politik, alat pencitraan, ataupun alasan untuk meredam kritik publik maupun menghentikan proses penegakan hukum terhadap dugaan tindak pidana korupsi.

FORMAK LUTIM turut mengajak seluruh elemen masyarakat, mahasiswa, pemuda, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan insan pers untuk bersama-sama mengawal proses penegakan hukum di Luwu Timur. Menurut mereka, pemberantasan korupsi merupakan tanggung jawab bersama demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel.

“Bagi FORMAK LUTIM, tidak ada pembangunan tanpa keadilan, tidak ada kesejahteraan tanpa integritas, dan tidak ada pemerintahan yang bersih tanpa keberanian mengungkap korupsi sampai ke akar-akarnya,” pungkas Putra dalam pernyataan sikap yang dibacakan pada aksi demonstrasi di depan kantor Kejati Sulsel. (*)

BURAU – Dinas Perikanan Kabupaten Luwu Timur menggelar sosialisasi pengembangan metode budidaya polikultur udang-bandeng bagi para pembudidaya tambak di Aula Kantor Desa Burau Pantai, Kecamatan Burau, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong transformasi sektor perikanan budidaya menuju sistem yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Metode polikultur memungkinkan petani tambak membudidayakan udang dan bandeng secara bersamaan dalam satu petak tambak.

Pendekatan ini dinilai mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan hasil produksi, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem tambak tradisional.

Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan, Aswan Azis, yang membuka kegiatan ini menekankan besarnya potensi sumber daya alam Luwu Timur yang perlu dikelola secara tepat.

“Kita patut bersyukur karena Luwu Timur dianugerahi sumber daya alam yang melimpah. Potensi ini harus kita kelola dengan baik agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para pembudidaya tambak,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan teknologi dan metode budidaya yang tepat merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing sektor perikanan budidaya daerah.

Dinas Perikanan menghadirkan narasumber Ir. Muhammad Saenong, M.P., dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang juga berstatus sebagai tim ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan.

Sosialisasi tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan. Para peserta juga diajak turun langsung ke lokasi tambak untuk menyaksikan dan mempraktikkan penerapan metode polikultur mulai dari persiapan tambak, penebaran benih, hingga pengelolaan kualitas air dan pemeliharaan komoditas.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan, Syahrir, berharap pendekatan teori dan praktik lapangan yang dipadukan dalam kegiatan ini mampu mendorong para pembudidaya mengadopsi cara bertambak yang lebih modern dan efisien.

 

“Dinas Perikanan berharap para pembudidaya mampu mengadopsi metode budidaya yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan produksi perikanan serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya para pembudidaya,” kata Syahrir.

Kegiatan ini dihadiri perwakilan Camat Burau, Kepala Desa, para penyuluh perikanan, serta pembudidaya tambak. (red)

LUWU TIMUR – Dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Luwu Timur menggelar Pembukaan Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup yang berlangsung di Wisma Golden, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kapolres Luwu Timur, AKBP Ario Putranto TM, S.I.K., M.H., dan dihadiri oleh Wakapolres Luwu Timur KOMPOL Hajriadi, A.Md.Kep., Ners., S.H., M.H., Kasat Reskrim AKP Jody Dharma, S.Tr.K., S.I.K., M.H., panitia pelaksana, wasit pertandingan, serta para peserta turnamen dari berbagai wilayah di Kabupaten Luwu Timur.

Pembukaan kegiatan diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, doa bersama, sambutan Kapolres Luwu Timur, hingga pembukaan resmi turnamen yang ditandai dengan pelepasan pertandingan perdana.

Kapolres Luwu Timur AKBP Ario Putranto TM dalam sambutannya menyampaikan bahwa turnamen e-sport ini merupakan salah satu bentuk pendekatan Polri kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui kegiatan yang positif, kreatif, dan kompetitif.

“Melalui Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup ini, kami ingin membangun kedekatan dengan masyarakat serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan bakatnya secara positif. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat sportivitas,” ujar Kapolres.

Pelaksanaan turnamen ini menunjukkan komitmen Polres Luwu Timur dalam mengikuti perkembangan zaman dan mendukung aktivitas generasi muda di bidang olahraga elektronik (e-sport). Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Polres Luwu Timur dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Melalui berbagai kegiatan sosial, olahraga, dan kemasyarakatan, Polres Luwu Timur terus berupaya menghadirkan Polri yang Presisi, humanis, serta semakin dekat dengan masyarakt.

WOTU – Keberhasilan budidaya rumput laut kini tidak lagi diukur dari banyaknya hasil panen. Di tengah tantangan perubahan lingkungan dan meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk berkualitas, pembudidaya didorong menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) sebagai standar untuk menjaga produktivitas sekaligus memastikan usaha budidaya tetap berkelanjutan.

Komitmen tersebut menjadi fokus Dinas Perikanan Kabupaten Luwu Timur melalui sosialisasi bertajuk “Penerapan CBIB Rumput Laut Katonik untuk Keberlanjutan Usaha Budidaya” yang digelar di Aula Kantor Camat Wotu, Selasa (23/6).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Balai Budidaya Perikanan Air Payau zkementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Takalar, Ilham, dan diikuti para pembudidaya rumput laut, Asisten III Setdakab Luwu Timur Askar, penyuluh perikanan, Kabid budidaya Syahrir, kepala desa, serta jajaran Dinas Perikanan.

Mewakili Bupati Luwu Timur, Asisten III Askar saat membuka kegiatan mengajak seluruh pembudidaya menjadikan CBIB sebagai budaya dalam menjalankan usaha budidaya rumput laut.

“Mari kita jadikan penerapan CBIB sebagai budaya dalam budidaya rumput laut, bukan sekadar memenuhi standar, tetapi sebagai langkah nyata menjaga kualitas produk, melestarikan lingkungan pesisir, dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya. Dengan sinergi antara pemerintah, penyuluh, dan masyarakat, saya yakin sektor budidaya rumput laut di Luwu Timur akan semakin maju, berdaya saing, dan menjadi penopang terwujudnya Luwu Timur Maju dan Sejahtera,” ujarnya.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai penerapan CBIB secara menyeluruh, mulai dari pemilihan lokasi budidaya, penggunaan bibit unggul, teknik pemeliharaan,
pengendalian hama dan penyakit, hingga penanganan pascapanen. Penerapan standar tersebut diyakini mampu meningkatkan mutu hasil panen sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

Selain meningkatkan produktivitas, penerapan CBIB juga diharapkan mampu memperkuat daya saing rumput laut asal Luwu Timur di pasar yang semakin menuntut produk berkualitas, aman, dan memiliki sistem ketertelusuran (traceability).

Setelah penyampaian materi di aula, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lokasi budidaya rumput laut di lapangan. Pada sesi ini, para peserta tidak hanya melihat langsung penerapan prinsip-prinsip CBIB, tetapi juga mengikuti praktik budidaya yang benar, mulai dari pemeriksaan kondisi lokasi, teknik penanaman, pemeliharaan, hingga identifikasi potensi hama dan penyakit.

Pendekatan praktik lapangan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman pembudidaya sehingga materi yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap para pembudidaya tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem budidaya yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan, sehingga sektor rumput laut tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat pesisir.