RADARLUWU.COM,MALILI — Perusahaan pertambangan PT Prima Utama Lestari siap mengakomodir tenaga kerja lokal dan kontraktor lokal. PT THJ dievaluasi.
Manager Projeck (MP) PT PUL, Doni De Rosari mengatakan, kebutuhan tenaga kerja saat ini memang masih kecil. Namun, aktivitas saat ini sudah mengakomodir tenaga kerja lokal. Meski jumlahnya masih sangat sedikit.
Terkait, PT. Tektonindo Henida Jaya (THJ) yang saat ini digandeng benernya, akan dievaluasi. Jika tidak memenuhi target, maka kontrak kerja sama tidak akan dilanjutkan. “Ini ada batasnya. Kita pasti evaluasi,” kata Doni, Rabu, (09/10/24).
Doni mengaku, jika THJ memang perusahaan berasal dari luar daerah Kabupaten Luwu Timur. Bukan kontraktor lokal. Namun untuk mengakomodir kontraktor atau pengusaha lokal, pihaknya bukan penentu kebijakan. Melainkan keputusan pimpinan pusat di Jakarta.
“Kami sebenarnya lebih sepakat kalau perusahaan lokal. Tetapi bukan kami yang menentukan. Yang menentukan siapa yang bekerja sama, pimpinan pusat,” ungkapnya.
Meski begitu, Doni mengaku tetap mengakomodir kepentingan pengusaha lokal. “Makanya, kami evaluasi THJ. Dan kami berusaha mengakomodir kontraktor lokal,” imbuhnya.
Sekjen Kerukunan Keluarga Malili (KKM), Rudiansyah mengatakan, keputusan PT PUL menggandeng perusahaan dari luar perlu dievaluasi. Sebab, perintah UU Minerba mewajibkan pemilik IUP mengikutsertakan pengusaha atau kontraktor lokal.
“Jadi ini poin pentingnya. PT PUL tidak boleh mengabaikan ini. Mengikutsertakan pengusaha lokal itu wajib. Sementara yang sekarang digandeng itu perusahaan dari luar. Ini aneh. Kita mau PT PUL menunaikan janjinya, menggandeng kontraktor lokal dan memberikan porsi tenaga kerja lokal yang lebih besar,” kata Rudiansyah.
Untuk itu, Rudiansyah meminta PT PUL berbenah. “Pemerintah juga perlu ambil tindakan. Tidak boleh melakukan pembiaran. Pemberdayaan tenaga kerja lokal dan pengusaha lokal ini harus dilaksanakan. Ini sama halnya menunaikan CSR. Tidak ada bedanya. Itu wajib,” imbuhnya. (*)
