RadarLuwu.com, Makassar – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan gas LPG 3 kilogram tengah melanda sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Imbasnya, antrean panjang kendaraan terlihat di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak Selasa (8/9/2026), dan keluhan warga soal sulitnya elpiji melon pun mengemuka di beberapa wilayah.
Di Kota Makassar, antrean kendaraan di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan tampak mengular hingga ke arah perbatasan Kabupaten Maros. Sebuah SPBU di samping Kodam XIV/Hasanuddin terpaksa tutup lantaran tidak ada pasokan, begitu pula SPBU di Jalan Pajaiyyang yang kehabisan Pertalite dan Pertamax serta masih menunggu kiriman.
Kondisi serupa dirasakan warga Kabupaten Luwu. Antrean kendaraan roda empat dilaporkan mengular hingga ke badan Jalan Poros Makassar-Palopo, bahkan sebagian pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Luwu disebut memilih membeli bensin botolan untuk kendaraan mereka. Menyikapi situasi ini, Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Muhammad Rudi menyatakan bakal membentuk Satgas BBM menindaklanjuti arahan Pemerintah Provinsi Sulsel agar pengawasan penyaluran bahan bakar di daerah berjalan lebih ketat.
Pemerintah Provinsi Sulsel sendiri telah mengirimkan surat edaran kepada seluruh pemkab dan pemkot di Sulsel agar turut membentuk satgas pengawasan BBM. Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi mendesak Pertamina segera memastikan pasokan kembali normal. Menurut dia, kelangkaan yang dibiarkan berlarut berpotensi memperpanjang antrean, memicu kenaikan harga di tingkat pengecer, dan kian menyulitkan masyarakat. Ia juga meminta penyaluran LPG 3 kilogram diawasi ketat agar tepat sasaran serta mengedepankan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, Pertamina, agen, pangkalan, dan aparat pengawas.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto menegaskan kepolisian tidak tinggal diam menghadapi fenomena ini. Ditreskrimsus Polda Sulsel, kata dia, kini tengah menyelidiki dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi maupun elpiji, termasuk kemungkinan adanya praktik mafia atau penimbunan; hasil penyelidikan akan disampaikan ke publik. Polisi juga menegaskan tidak akan memberi toleransi kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, sembari berkoordinasi dengan Pertamina dan pemilik SPBU.
Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga Region Sulawesi menyatakan pasokan BBM di wilayahnya sebenarnya aman. Yang dibutuhkan, menurut perusahaan, adalah pengawasan semua pihak agar BBM bersubsidi tidak disalahgunakan oknum tertentu. Kelangkaan ini terjadi di tengah penyesuaian harga sejumlah BBM nonsubsidi yang berlaku nasional sejak awal September 2026, antara lain Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter, Dexlite dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, Pertamina Dex dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter, dan Pertamax Green dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter, sementara harga BBM bersubsidi tidak berubah.

