Radar Luwu – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi turun tangan menanggapi dugaan keracunan massal yang dialami ratusan pelajar dan tenaga pendidik di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa yang terjadi pada awal pekan ini langsung menjadi sorotan utama pemerintah provinsi.
Mahyeldi menilai akar persoalan insiden ini terletak pada lemahnya komunikasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pengelola dapur MBG dengan sejumlah instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan. Menurutnya, koordinasi yang berjalan baik sejak awal seharusnya mampu mencegah musibah semacam ini terjadi.
Pernyataan itu disampaikan orang nomor satu di Sumbar itu pada Rabu (2/9/2026). Ia menegaskan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang, sebab bila dapur MBG menjalin koordinasi dengan dinas kesehatan maupun pihak lain, potensi bahaya tersebut sebenarnya bisa ditekan sejak dini.
Catatan sementara yang dihimpun petugas dari Puskesmas Palupuh beserta 13 Puskesmas Pembantu (Pustu) di wilayah sekitar menyebutkan, sedikitnya 237 siswa dan guru dilaporkan merasakan gejala yang mengarah pada keracunan setelah menyantap makanan program tersebut. Sebagai respons cepat, Mahyeldi memerintahkan penghentian sementara operasional dapur penyedia MBG di lokasi kejadian agar dampaknya tidak meluas.
Gubernur meminta seluruh aktivitas dapur dihentikan dan diamankan terlebih dahulu untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh guna menemukan titik permasalahannya sebelum operasional kembali dibuka. Ia juga berharap kasus ini menjadi bahan evaluasi berharga bagi dapur-dapur MBG lain di daerah.
Di sisi penanganan medis, Pemerintah Provinsi Sumbar bersama Dinas Kesehatan setempat terus mengawal perkembangan kondisi para korban serta mengumpulkan data perawatan di lapangan. Harapannya, peristiwa ini tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti bagi para pelajar maupun guru yang terdampak.
Terkait rencana kunjungan ke rumah sakit atau puskesmas untuk menjenguk korban, Mahyeldi mengaku masih menimbang-nimbang dan akan menyesuaikan dengan kabar terkini di lokasi. Ia menyatakan akan melihat bagaimana perkembangan informasi yang ada terlebih dahulu.
Jumlah korban dikhawatirkan masih dapat bertambah lantaran sebagian warga dan siswa yang merasakan keluhan serupa justru memilih berobat secara mandiri tanpa tercatat di fasilitas kesehatan. Sementara itu, Dinas Kesehatan bersama kepolisian setempat hingga kini masih mendalami kasus ini dan menguji sampel makanan dari dapur penyedia MBG untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal tersebut.
Sumber: Kompas.com

