IHSG Anjlok 11,57 Persen, BEI Minta Investor Tak Ikut-ikutan Jual Saham

IHSG Anjlok 11,57 Persen, BEI Minta Investor Tak Ikut-ikutan Jual Saham
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Saidu Solihin (kiri) dan Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi (tengah) menyampaikan keterangan kepada wartawan di Ruang Media BEI, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: ANTARA/Muhammad Heriyanto

RadarLuwu.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta investor tetap tenang dan tidak panik menyusul ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Pada penutupan sore, IHSG berada di level 5.185,11 atau susut 678,67 poin yang setara dengan pelemahan 11,57 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Imbauan itu disampaikan Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, saat menemui wartawan di Jakarta. Menurut dia, bursa sudah berulang kali menegaskan bahwa investor semestinya memegang orientasi jangka panjang, bukan sekadar menyimak gejolak harian harga saham.

Iding menyarankan agar keputusan membeli maupun menjual saham tidak didasarkan pada arus keramaian pasar. Ia menilai investor perlu lebih dulu menelaah fundamental perusahaan dan kondisi pasar secara menyeluruh, karena hal itu menjadi pertimbangan penting ketika pasar sedang tertekan. Ia juga mengingatkan bahwa penurunan tajam seperti yang terjadi hari ini bisa dimanfaatkan untuk mempelajari lebih dalam kinerja emiten, bukan untuk bertindak tergesa-gesa mengikuti langkah investor lain atau mengejar pergerakan harga jangka pendek.

Koreksi berlangsung sejak pembukaan perdagangan. IHSG langsung tergerus 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 dari penutupan sebelumnya di 5.863,78, sehingga BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit. Hingga akhir sesi pertama, indeks masih tertekan 630,78 poin atau 10,76 persen ke level 5.233,00, dan tekanan jual berlanjut sampai perdagangan ditutup.

Pelemahan terjadi merata. Seluruh sektor saham berakhir di zona merah, dengan sektor barang baku mencatat koreksi paling dalam, disusul sektor kesehatan dan infrastruktur. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 11 yang menguat, sementara 812 melemah dan 140 lainnya tidak bergerak. Nilai transaksi sepanjang hari tercatat sekitar Rp31,73 triliun dari 66,78 miliar lembar saham yang berpindah tangan.

Guncangan pasar bersumber dari pengumuman lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menampung masukan pelaku pasar atas usulan tersebut hingga 30 April 2027 dan rencananya mengumumkan keputusan pada atau sebelum 30 Juni 2027.

Bacaan Lainnya

MSCI menilai kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelayakan berinvestasi di pasar modal Indonesia meningkat signifikan. Sorotan mereka antara lain struktur kepemilikan saham yang dinilai belum transparan serta dugaan adanya perdagangan yang dilakukan secara terkoordinasi. Kendati otoritas pasar modal telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi, MSCI memandang masih diperlukan penerapan yang konsisten dan bukti nyata atas dampak yang berkelanjutan.

Bila reklasifikasi itu terwujud, Indonesia berpotensi dikeluarkan dari indeks utama MSCI karena dinilai memiliki hambatan besar bagi investor asing. Dalam pertemuan dengan jurnalis, Iding didampingi Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin.

Sumber: ANTARA News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *