Warga Ablam Makassar Tewas Terpeleset ke Got saat Coba Hentikan Tawuran

Aparat kepolisian membubarkan tawuran di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar
Aparat kepolisian membubarkan tawuran di Jl Abu Bakar Lambogo (Ablam) Makassar, Jumat (16/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

RadarLuwu.com, Makassar – Seorang warga di Jalan Abu Bakar Lambogo, Kecamatan Makassar, tewas setelah dua kelompok warga di kawasan itu kembali bentrok, Jumat (16/10/2026) pagi. Korban bernama Paman alias Mansyur, 45 tahun, berada di lokasi untuk menenangkan warga, bukan untuk ikut berkelahi.

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menuturkan, keributan antara kelompok Jorjoran dan Lonner itu meletus sekitar pukul 06.30 Wita. Menurut dia, kejadian tersebut bukan yang pertama; gesekan lama antara kedua kubu menjadi pemicu utama, lalu pihak yang masih merasa tidak puas kembali menghasut warganya.

“Pemicu sebenarnya dari dendam-dendam lama. Ada kejadian kemarin, karena mereka belum puas sehingga ada lagi yang memprovokasi,” kata Arya di Makassar.

Arya memastikan nyawa Mansyur tidak melayang akibat serangan dalam tawuran. Warga itu sempat keluar rumah untuk mengimbau agar kedua kelompok menghentikan aksi saling serang. “Almarhum sempat keluar untuk memberikan imbauan kepada orang-orang supaya tidak melakukan tawuran. Ini sangat mulia sekali,” ujarnya.

Nahas, saat berada di lokasi, korban tidak menyadari ada saluran pembuangan air di depannya. Ia terpeleset, lalu kepalanya membentur permukaan keras hingga berdarah. “Memang ada got di depan beliau yang tidak terlihat dan beliau terpeleset jatuh. Kepalanya terkena benturan sehingga berdarah dan akhirnya meninggal dunia,” jelas Arya.

Kepolisian, lanjut Arya, telah menanyakan peristiwa itu kepada keluarga korban. Hasilnya, kematian Mansyur ditegaskan bukan karena ia terlibat pertikaian. “Bukan meninggal karena tawuran ya, tapi beliau ada di situ dan terpeleset jatuh, sudah dikonfirmasi juga kepada keluarganya,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Untuk mencegah bentrokan susulan, sejumlah kekuatan dikerahkan ke kawasan tersebut, mulai dari Satuan Brimob, Direktorat Samapta Polda Sulsel, Polrestabes Makassar, sampai jajaran polsek setempat. Meski personel masih berjaga, Arya mengakui masih ada oknum yang memicu keributan sehingga bentrokan berulang pada pagi itu.

Ia pun menilai penanganan konflik tidak cukup dilakukan aparat kepolisian seorang diri. Perangkat kewilayahan, dari pengurus RT/RW dan lurah sampai camat, bersama para tokoh warga diminta ikut ambil bagian meredakan permusuhan antarkelompok yang sudah berlangsung lama. “Kalau polisi hanya bekerja sendiri, masyarakat tidak ikut membantu, ini akan semakin sulit,” ucap Arya.

Sumber: IDN Times Sulsel

Pos terkait