RadarLuwu.com, Banjarmasin – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memutuskan memperpanjang masa operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban kecelakaan Kapal Motor Virgo Transport 8 selama tujuh hari ke depan. Perpanjangan ini dihitung sejak kapal tersebut mengalami musibah di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9).
Keputusan perpanjangan disampaikan Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu malam. Menurutnya, langkah itu diambil setelah pihaknya berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan pendukung operasi SAR dan tim operasi salvage yang dikoordinasikan oleh pemilik kapal. Ia menyatakan bahwa hari tersebut merupakan hari ketujuh operasi dan pihaknya memastikan pencarian akan dilanjutkan selama sepekan berikutnya.
Yudhi menjelaskan bahwa dua tim salvage yang dikoordinasikan pemilik kapal baru tiba pada Sabtu. Hingga malam, kedua tim masih menggelar rapat bersama pihak terkait guna memutuskan langkah pelaksanaan operasi pengangkatan bangkai kapal. Menurutnya, operasi salvage yang akan dijalankan berpotensi memakan waktu panjang dan tidak sesingkat yang diperkirakan. Ia menegaskan belum bisa memastikan kapan operasi itu dimulai karena masih dalam pembahasan tim ahli dari pihak pemilik kapal.
Perpanjangan operasi SAR dilakukan sembari menunggu hasil pembahasan tim salvage dan langkah penanganan bangkai kapal. Dengan begitu, operasi pencarian dan pertolongan dapat terus berjalan mengikuti perkembangan di lapangan. Pada pelaksanaan hari ketujuh, tim gabungan tidak menemukan korban baru. Hingga Sabtu malam pukul 21.00 Wita, Basarnas mengonfirmasi sebanyak 117 korban telah ditemukan, dengan rincian 108 orang selamat dan sembilan orang meninggal dunia. Sementara itu, 126 orang lainnya masih belum ditemukan dari total 243 orang yang tercantum dalam manifes kapal.
KM Virgo Transport 8 bertolak dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sejak 12 September 2026 dengan 243 orang di atasnya. Kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk dan kehilangan kontak pada 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 Wita. Pada hari yang sama, kapal ditemukan dalam posisi terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Memasuki hari kedelapan pencarian, Minggu (20/9), Basarnas memfokuskan 12 penyelam terbaik untuk melanjutkan pencarian korban yang belum ditemukan melalui operasi bawah laut. Yudhi menyebut ke-12 penyelam itu merupakan personel gabungan yang dipilih dari seluruh unsur penyelam tim SAR setelah dilakukan penyesuaian dan penyegaran tim. Jumlah tersebut bukan keseluruhan penyelam yang terlibat dalam operasi SAR.
Menurut Yudhi, para penyelam yang disiapkan memiliki pengalaman dalam penanganan sejumlah kecelakaan, termasuk operasi SAR kecelakaan pesawat Lion Air dan Sriwijaya Air beberapa tahun silam. Ia menegaskan penyegaran dilakukan bukan karena kekurangan personel, melainkan karena sejumlah unsur kapal yang sebelumnya mendukung operasi penyelaman harus kembali ke pangkalan untuk pergantian personel dan pelaksanaan tugas lain. Basarnas juga menyiapkan unsur pengganti demi menjaga kemampuan pencarian bawah laut.
Yudhi menyampaikan bahwa penyelam yang berkurang berasal dari KRI I Gusti Ngurah Rai, sementara KRI Pulau Fani turut kembali ke homebase. Kapal pengganti akan didatangkan dari KRI Nala yang turun pada hari kedelapan operasi SAR. Basarnas mengerahkan TB Jaya Dragon yang nantinya beroperasi bersama 12 penyelam terbaik. Kehadiran kapal itu memperkuat operasi bawah air yang sebelumnya telah dijalankan 20 penyelam TNI Angkatan Laut, seraya menunggu keputusan tim salvage mengenai langkah terhadap badan kapal. Yudhi berharap personel yang tersedia dapat memperkuat apa yang telah dilaksanakan penyelam TNI Angkatan Laut, sambil terus berupaya melakukan pencarian di bawah air.
Sumber: ANTARA News

