Wakatobi Ajak Warga Mulai Kelola Sampah dari Dapur Sendiri

Wakatobi Ajak Warga Mulai Kelola Sampah dari Dapur Sendiri
Eliati Haliana-Ketua TP-PKK Kabupaten Wakatobi. Foto: rri.co.id

RadarLuwu.com, Wakatobi – Upaya mewujudkan Wakatobi bebas sampah tidak bisa hanya mengandalkan kerja bakti sesekali. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Eliati Haliana, menekankan bahwa pengelolaan sampah harus menjadi kebiasaan harian yang dimulai dari lingkup rumah tangga. Ajakan tersebut ia sampaikan dalam sosialisasi pelaksanaan lomba kebersihan Wakatobi Bersih, Sehat, Lestari dan Indah (Berseri) di Pulau Kaledupa belum lama ini.

Eliati mengungkapkan bahwa mayoritas sampah yang bermuara di pesisir dan laut Wakatobi bersumber dari aktivitas rumah tangga, mulai dari dapur, warung, hingga halaman. Ia menilai langkah kecil yang dilakukan di dapur dan pekarangan rumah mampu memberi dampak besar bagi kebersihan lingkungan, terutama dalam melindungi pesisir, terumbu karang, dan biota laut Wakatobi. Sampah yang dibiarkan tanpa pengelolaan baik bisa terbawa hujan dan aliran air sampai ke laut, sehingga mengancam ekosistem bahari yang menjadi tumpuan hidup warga setempat.

Data yang dipaparkan Eliati menunjukkan sekitar 58 persen sampah pesisir di kawasan konservasi Wakatobi berupa plastik. Khusus di Kaledupa, potensi timbulan sampah diperkirakan mencapai 9,5 ton per hari jika tidak ditangani dengan benar.

Ia kemudian membeberkan lima kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan masyarakat, yakni menolak barang sekali pakai yang tidak dibutuhkan, mengurangi pemakaian barang dan kemasan berlebihan, memanfaatkan kembali barang yang masih layak, memilah sampah untuk didaur ulang, serta mengolah sampah organik menjadi kompos.

Eliati menganjurkan warga memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat ditampung dalam wadah tertutup untuk diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dibersihkan, dipilah sesuai jenisnya, lalu disimpan untuk didaur ulang atau disetorkan ke bank sampah. Untuk menekan sampah plastik, ia mengimbau masyarakat membawa tas belanja kain dan botol minum isi ulang, menolak sedotan plastik, kantong kresek, serta styrofoam sekali pakai, dan memilih produk dengan kemasan isi ulang.

Pengelolaan sampah organik, lanjutnya, juga bisa dilakukan dengan cara sederhana memanfaatkan ember berlubang atau lubang biopori. Sisa sayur, buah, dan daun kering dapat dimasukkan ke dalamnya agar terurai dan dimanfaatkan sebagai kompos untuk tanaman serta kebun rumah. Adapun sampah seperti botol plastik, kardus, kaleng, dan kaca dapat dikumpulkan terpisah dan disetorkan ke bank sampah desa atau kecamatan. Sampah itu bisa ditimbang dan dicatat sebagai tabungan, sehingga memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.

Bacaan Lainnya

Eliati menegaskan bahwa menjaga kebersihan tidak cukup dilakukan lewat kerja bakti sesekali, melainkan harus menjadi kebiasaan setiap hari dengan melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Penerapan konsep rumah cerdas bebas sampah, katanya, diharapkan mendatangkan manfaat berupa rumah yang lebih sehat, terjaganya laut dan terumbu karang, munculnya nilai ekonomi baru, serta lingkungan yang lebih baik sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Ia menutup dengan pesan bahwa pemberdayaan sejati berawal dari hal-hal kecil di dalam rumah. Menurutnya, ibu menjadi pelopor, dan jika keluarga mampu mengelola sampah dari dapurnya sendiri, maka sedang dibangun pondasi kesehatan bagi keluarga sekaligus kelestarian bagi Wakatobi.

Sumber: rri.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *