RadarLuwu.com, Palu – Produksi perikanan Sulawesi Tengah pada 2025 tercatat mencapai 658.451,80 ton. Capaian itu dinilai mesti dibarengi dengan penguatan industri pengolahan di daerah, bukan sekadar mengejar angka produksi. Persoalannya, hilirisasi perikanan di provinsi ini dianggap belum sepenuhnya menyentuh nelayan, pembudidaya, dan pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung sektor tersebut.
Ketua Komite Tetap Bidang Pengolahan dan Hilirisasi Hasil Perikanan KADIN Sulawesi Tengah, Handri, menegaskan bahwa hilirisasi jangan cuma berorientasi pada pertumbuhan industri pengolahan. Nelayan dan pembudidaya yang menghasilkan bahan baku, menurut dia, tetap harus berada di dalam rantai nilai. Caranya lewat dukungan akses pasar, teknologi, pembiayaan, sarana produksi, hingga standar mutu.
Handri menyampaikan pandangan itu pada Rabu, 23 September 2026. Ia menekankan bahwa hilirisasi semestinya tidak menjauhkan nelayan dan pembudidaya dari nilai tambah. Sebaliknya, mereka justru perlu dilibatkan langsung sebagai bagian dari rantai nilai tersebut.
Selain nelayan dan pembudidaya, kata Handri, UMKM pengolahan memegang posisi strategis dalam pengembangan industri perikanan daerah. Kemitraan antara industri besar, UMKM, nelayan, dan pembudidaya pun perlu diperkuat. Penguatan itu bisa dilakukan melalui akses bahan baku, teknologi, pembiayaan, sertifikasi, serta kepastian pasar dan harga.
Ia juga menilai pemerintah memiliki peran kunci menciptakan iklim usaha yang mendukung hilirisasi. Sejumlah hal yang dibutuhkan antara lain kepastian regulasi, kemudahan perizinan, pembiayaan, peningkatan sumber daya manusia, dan pembangunan infrastruktur.
Dengan penguatan kapasitas pengolahan di dalam daerah, produksi perikanan tidak lagi hanya dijual dalam bentuk bahan baku. Hasilnya dapat memberi nilai tambah, membuka lapangan kerja baru, dan menggerakkan perputaran ekonomi Sulawesi Tengah secara lebih luas.
Bagi Handri, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari naiknya volume produksi. Yang tak kalah penting adalah seberapa besar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan pelaku usaha kecil di daerah, terutama nelayan, pembudidaya, dan UMKM pengolahan.
Sumber: rri.co.id







