Kapal Pinisi Feronia Tenggelam di Komodo, Korban Dive Master Masih Dicari

Kapal Pinisi Feronia Tenggelam di Komodo, Korban Dive Master Masih Dicari
Proses evakuasi penumpang KM Feronia yang tenggelam di TN Komodo, Selasa (13/10/2026). Foto: Dokumentasi Kantor SAR Maumere

RadarLuwu.com, Labuan Bajo – Veronica Beatrix Jessica (23), satu-satunya orang yang belum ditemukan usai kapal wisata pinisi KM Feronia terbalik dan tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, masih dalam pencarian. Operasi hari kedua, Rabu (14/10/2026), berakhir tanpa hasil hingga pukul 18.00 Wita.

Fathur Rahman, Kepala Kantor SAR Maumere, menuturkan bahwa area pencarian hari itu mencakup 14 mil laut. Operasi dimulai pukul 06.00 Wita dengan mengerahkan 82 personel gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri, disertai pemantauan drone thermal selama sepuluh menit. Para penyelam bekerja dalam beberapa sesi di kedalaman 30 sampai 40 meter, terpusat pada upaya menemukan bangkai KM Feronia yang diduga menjadi tempat korban terperangkap.

Di tengah operasi, sekitar pukul 15.15 Wita, anggota Somer Dive menemukan sebuah tangki selam mengapung di perairan antara Pulau Pengah dan Pulau Siaba Besar. Tangki itu diduga kuat bagian dari perlengkapan selam KM Feronia, lalu diamankan di kapal Somer Dive.

Kronologi kecelakaan disusun Satuan Polairud Polres Manggarai Barat dari keterangan sejumlah penumpang, termasuk nakhoda kapal bernama Irsan. Kapal berangkat dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo menuju Dermaga Pulau Rinca dengan 25 penumpang dan lima awak kapal. Selepas rombongan menyelam di perairan Manta, KM Feronia berlayar kembali ke Labuan Bajo. Ketika melintasi perairan sekitar Tatawa Besar, kapal dihantam arus kuat.

Kasat Polairud Polres Manggarai Barat, Iptu Leonardo Marpaung, memaparkan bahwa laju kapal sekitar 10 knot saat bergerak dari Manta Point menuju Tatawa Besar. Kecepatan diturunkan menjadi 8 knot ketika kapal berada sekitar 15 meter dari titik pusaran. Begitu masuk ke pusaran, kapal berbalik arah, kehilangan kendali, lalu terbalik ke sisi kiri dan tenggelam di koordinat 8°31’11.4″S 119°36’02.1″E.

Para wisatawan dan awak kapal terjun ke laut untuk menyelamatkan diri. Kru sempat membentangkan liferaft atau perahu karet darurat untuk menolong orang-orang yang terapung. Jessica, yang berprofesi sebagai instruktur selam atau dive master, diduga sedang berada di dalam toilet dengan pintu terkunci dari dalam. Saat kapal terbalik ke kiri, dia tak keburu keluar dan terseret bersama badan kapal yang mulai tenggelam.

Bacaan Lainnya

Pertolongan pertama datang dari dua perahu cepat yang kebetulan melintas di sekitar lokasi, Red Whale dan Mac Cruise, sebelum tim SAR gabungan tiba di titik kejadian. Evakuasi berlangsung bertahap: pukul 15.00 Wita sebanyak 14 orang dibawa speedboat Red Whale 2 dan tiba pukul 15.30 Wita, empat orang menyusul dengan speedboat Mac Cruise dan tiba pukul 15.50 Wita, kemudian pukul 16.10 Wita tujuh orang diangkut perahu karet RIB 500 PK milik Pos SAR Manggarai Barat. Pada waktu yang sama, empat orang lain dievakuasi memakai Sea Rider KSOP Labuan Bajo.

Dari 30 orang di atas kapal, 29 di antaranya selamat. Sebagian besar penumpang merupakan wisatawan asing yang berasal dari Spanyol, Australia, Perancis, Swiss, China, Belanda, Selandia Baru, Rumania, Kanada, Austria, Britania Raya, dan Amerika Serikat, sedangkan tiga penumpang lain merupakan warga negara Indonesia. Awak kapal yang selamat adalah Irsan sebagai nakhoda, Irwandi sebagai kepala kamar mesin, serta Rupertus Raman, Wihelmus Amir, dan Falens Tinus Gordi.

Menurut Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, cuaca buruk dan arus kuat diduga menjadi penyebab kecelakaan. Laporan awal mengarah pada keterlambatan antisipasi nakhoda terhadap arus deras ketika air pasang tertinggi, namun penyebab pasti masih diinvestigasi. KM Feronia berukuran 51 gross tonnage (GT) dan termasuk kapal tradisional untuk angkutan penumpang.

KSOP Labuan Bajo bersama sejumlah unsur terkait, dibantu kapal SB Red Whale, menangani pencarian dan evakuasi penumpang serta awak. Kantor tersebut juga menyiarkan Notice to Mariners kepada kapal-kapal di sekitar lokasi kejadian agar meningkatkan kewaspadaan dan membantu upaya pencarian dan pertolongan.

Sumber: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *