OJK Evaluasi Ekosistem Kakao Poso, Skala Bisa Diperluas

OJK Evaluasi Ekosistem Kakao Poso, Skala Bisa Diperluas
Petani kakao di Desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan mengikuti kegiatan business matching pengembangan ekonomi daerah yang diselenggarakan OJK Sulteng di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Foto: ANTARA/Nur Amalia Amir

RadarLuwu.com, Poso – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memantau pelaksanaan program pengembangan ekosistem kakao di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pemantauan tersebut bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Analis Direktorat Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Ario, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama Kepala OJK Sulawesi Tengah Bonny Hardi Putra akan melakukan pemantauan serta evaluasi terhadap pelaksanaan program pengembangan ekonomi daerah tersebut. Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan business matching pengembangan ekonomi daerah di Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Rabu.

Evaluasi tersebut dilakukan sejalan dengan berjalannya program. Tujuannya mengidentifikasi hambatan maupun tantangan yang muncul, sekaligus menjadi bahan perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan ke depan.

Ario menambahkan, bila ekosistem sudah berjalan efektif, skala program dapat diperbesar. Dengan begitu, semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya.

Ia menjelaskan, penandatanganan MoU dan business matching merupakan pertemuan antara pihak yang membutuhkan layanan dengan pihak yang mampu menyediakan layanan dalam ekosistem pengembangan ekonomi daerah, khususnya komoditas kakao.

Dalam kesempatan tersebut, Ario memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Poso, OJK Sulteng, Koperasi Karya Bersama, lembaga jasa keuangan, PT Pegadaian, BPJS Ketenagakerjaan, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan semua pihak yang terlibat dalam kolaborasi mendorong pengembangan komoditas kakao di Poso.

Bacaan Lainnya

Sulawesi Tengah sendiri disebut Ario sebagai salah satu produsen kakao utama di Indonesia. Produksi komoditas itu pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 126.000 ton.

Sumber: antaranews.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *