Pertumbuhan Ekonomi Sulut 5,42 Persen, ISEI Manado Soroti Hilirisasi dan Kemandirian Fiskal

Ketua ISEI Manado Prof Joy Elly Tulung
Ketua ISEI Cabang Manado Prof Joy Elly Tulung SE.M.Sc.Ph.D. Foto: sulutnews.com

RadarLuwu.com, Manado – Ketua Cabang Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Manado, Prof. Dr. Joy Elly Tulung, SE., M.Sc., menilai kondisi makroekonomi Sulawesi Utara masih cukup kokoh meski tengah menghadapi tekanan global dan keterbatasan ruang fiskal daerah. Penilaian itu disampaikannya menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Utara yang jatuh pada Rabu, 23 September 2026.

Prof. Joy memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulut pada triwulan II-2026 tercatat 5,42 persen secara tahunan, sementara secara kumulatif semester I-2026 mencapai 5,48 persen. Angka tersebut dinilai memperlihatkan aktivitas ekonomi yang tetap bergeliat. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi itu pun mengapresiasi kinerja Pemerintah Daerah Sulut dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Dari sisi komponen, konsumsi rumah tangga bukan satu-satunya penopang. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7,12 persen, sedangkan konsumsi pemerintah melonjak 14,70 persen. Sektor pertanian, konstruksi, industri pengolahan, dan jasa turut memberi andil positif terhadap capaian tersebut.

Kendati demikian, Prof. Joy mengingatkan bahwa pertumbuhan angka tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan warga. Ia menilai pertanyaan yang lebih mendasar adalah sejauh mana pertumbuhan itu mampu membuka lapangan kerja layak dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Salah satu persoalan yang ia soroti adalah masih dominannya Transfer ke Daerah (TKD) dalam pendapatan APBD Sulut, yakni sekitar 76 persen. Menurutnya, berkurangnya alokasi transfer dari pusat menjadi tantangan serius. Pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota diminta tidak lagi bersandar pada pola pembangunan yang sepenuhnya bertumpu pada APBD.

Prof. Joy juga menyoroti kinerja investasi yang dinilai belum menggembirakan bila hanya dilihat dari besaran nilainya. Ia menegaskan yang tak kalah penting adalah seberapa besar tenaga kerja lokal terserap dan seberapa banyak nilai tambah yang benar-benar tertinggal di daerah. Hilirisasi disebutnya sebagai kunci, sehingga komoditas seperti kelapa dan ikan tidak lagi dikirim dalam bentuk mentah. Menurutnya, nilai tambah dan lapangan kerja harus tercipta di Sulut sendiri.

Bacaan Lainnya

Sejumlah sektor dipandang perlu menjadi prioritas, antara lain pertanian dan perkebunan, perikanan, industri pengolahan, energi, ekonomi digital, logistik, serta pariwisata. Pada Juni 2026, kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 8.023 orang, naik lebih dari 100 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan pada Maret 2026, angkanya sempat menyentuh 11.517 kunjungan.

Meski demikian, Prof. Joy menilai jumlah kunjungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Lama tinggal, tingkat pengeluaran, dan manfaat yang dirasakan warga lokal dinilai lebih menentukan. Ia mengusulkan pengemasan destinasi secara terpadu dalam satu paket perjalanan, mencakup Bunaken, Likupang, Manado untuk kegiatan MICE, Tomohon–Minahasa, Tangkoko, dan Lembeh.

Faktor konektivitas, aksesibilitas, fasilitas, dan daya tarik juga disebutnya perlu terus dibenahi, termasuk memperkuat penerbangan internasional dan penyelenggaraan acara berskala besar. Pada usia 62 tahun, Prof. Joy menilai Sulut memiliki modal kuat untuk melangkah lebih jauh. Ia menekankan bahwa ukuran kemajuan bukan semata kecepatan pertumbuhan, melainkan berapa banyak pekerjaan tercipta, berapa warga yang keluar dari kemiskinan, berapa UMKM yang naik kelas, serta seberapa besar nilai tambah sumber daya dinikmati sendiri oleh masyarakat. Dengan pelaksanaan yang konsisten, visi Sulut yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan dinilainya bukan sekadar slogan.

Sumber: sulutnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *